Thursday , 21 March 2019
Home » Berita » Publikasi Laporan EITI 2016
Publikasi Laporan EITI 2016

Publikasi Laporan EITI 2016

Tim Pelaksana EITI mempublikasikan Laporan EITI ke-6 yang mencakup informasi penerimaan negara dari industri ekstraktif tahun kalender 2016. Publikasi laporan tersebut untuk memenuhi persyaratan Standar EITI dimana negara pelaksana harus dapat mempublikasikan laporan maksimal berjarak dua tahun dari tahun berjalan. Waktu publikasi di bulan Desember 2018 masih memenuhi Standar EITI 2016

Penyelesaian Laporan EITI dilaksanakan sekitar empat bulan sejak kick off pada Rapat Tim Pelaksana (Ratimlak) EITI tanggal 14 September 2018. Rapat tersebut juga menetapkan Kantor Akuntan Publik (KAP) Heliantono dan Rekan menjadi Independent Administrator (IA) untuk menyelesaikan Laporan EITI 2016. Selama empat bulan penyelesaian laporan, Tim Pelaksana EITI melakukan enam kali rapat yaiti empat kali Ratimlak EITI dan dua rapat teknis. Ratimlak pertama yang dilaksanakan tanggal 14 September 2018 menetapkan bahwa Tim Pelaksana menyetujui inception report atau laporan awal dari IA. Rapat ketiga yang dilaksanakan pada tanggal 16 November 2018 menetapkan bahwa Tim Pelaksana EITI menyetujui draft laporan EITI 2016. Tim Pelaksana EITI menyetujui Laporan final pada Ratimlak tanggal 12 Desember 2018, walaupun ada beberapa perbaikan yang bersifat minor. Laporan EITI 2015 dipublikasikan di website EITI Indonesia setelah hampir semua anggota Tim Pelaksana menandatangani form persetujuan.

Laporan EITI 2016 dibagi menjadi laporan rekonsiliasi dan laporan kontekstual. Laporan rekonsiliasi berisi informasi tentang rekonsiliasi/perbandingan penerimaan negara yang dibayarkan industri ekstraktif dan yang diterima pemerintah. Perusahaan yang diwajibkan untuk memberikan laporan untuk rekonsiliasi yaitu 177 perusahaan migas (operator dan partner) dan 112 perusahaan dari sektor minerba. Hingga batas waktu pelaporan, dari 177 perusahaan migas yang diharapkan untuk melapor, sebanyak 22 perusahaan tidak melapor yang terdiri dari  21 perusahaan partner dan 1 perusahaan operator. Di sektor minerba, dari 112 perusahaan yang diwajibkan melapor, terdapat 32 perusahaan yang tak memberikan laporan untuk direkonsiliasi. Perusahaan-perusahaan tersebut tak menyerahkan laporan karena melebihi batas waktu, tak lagi berproduksi, dan tidak adanya alamat yang jelas. Walaupun terdapat sejumlah perusahaan yang tak melapor, namun kontribusi data pembayaran perusahaan yang melapor (155 Perusahaan operator dan partner migas dan 80 Perusahaan sektor minerba) untuk penerimaan negara berkontribusi   99,5 % total penerimaan negara dari sektor migas dan berkontribusi 89,3% dari total PNBP pertambangan nasional.

 Laporan kontekstual berisi informasi tata kelola, perizinan dan kontrak, manajemen penerimaan, kontribusi industri ekstraktif, peran serta BUMN, tanggung jawab sosial dan lingkungan, dan pengelolaan penerimaan negara dari industri ekstraktif. Dalam pemenuhan standar EITI 2016, satu terobosan signifikan dalam laporan ini adalah mulai tersediannya laporan Beneficial Ownership (BO), yaitu data BO dari 45 perusahaan sektor migas dan 57 data BO dari perusahaan sektor minerba. Walaupun data-data tersebut masih harus dikaji keakuratannya karena masih merupakan pernyataan sendiri dari perusahaan, namun langkah ini merupakan upaya yang baik karena berdasarkan Standar EITI, Indonesia harus mampu mempublikasikan data BO di tahun 2020. Laporan EITI 2016 selengkapnya dapat diunduh di http://eiti.ekon.go.id/laporan-eiti-indonesia-2016/