Saturday , 18 January 2020
Home » Berita » Penerimaan dari Industri Ekstraktif Hanya 25 Persen
Penerimaan dari Industri Ekstraktif Hanya 25 Persen

Penerimaan dari Industri Ekstraktif Hanya 25 Persen

suarabanyuurip.com – Sekalipun Indonesia kaya akan sumber daya alam untuk industri ekstraktif, namun penerimaan negara dari industri dengan bahan baku tak tergantikan ini hanya sekitar 25 persen.

Demikian ungkap perwakilan Sekretariat Extractive Industries Transparency Initiative (EITI), Ambarsari Dwi Cahyani, dalam workshop menuju transparansi dan akuntabilitas industri ekstratif pada tingkat daerah yang digelar Bojonegoro Institut (BI) bersama Article 33, di Bojonegoro, Rabu (19/3/2014).

“Indonesia itu cukup kaya dan unik, dengan adanya minyak dan gas bumi, emas, bauksit, nikel dan banyak lagi. Tapi, penerimaan industri ekstratif ini hanya 25 persen saja,” kata wanita berkacamata minus dalam workshop bertema Mencapai Tata Kepemerintahan yang Baik dan Masyarakat yang Sejahtera tersebut.

Dia katakan, tugas EITI adalah untuk mengidentifikasikan kemungkinan kesenjangan antara pembayaran dan penerimaan, serta menginvestigasi dan mengatasi sebab-sebabnya. EITI adalah lembaga di bawah koordinasi Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian. Lembaga ini mendapatkan laporan tentang penerimaan negara dari empat blok Migas di Bojonegoro yaitu MCL, Pertamina EP, PHE Esat Java, dan Pertamina Petrochina East Java pada tahun 2009 sampai 2011.

“Kami sangat mengapresiasi pengelolaan Dana Bagi Hasil Migas yang dilakukan oleh Pemkab Bojonegoro, dibandingkan dengan daerah pertambangan lainnya,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Suyoto, menyampaikan, semangat EITI ini sudah sama dengan semangat Bojonegoro, karena standart yang dibuat dalam bentuk transparansi pendapatan maupun belanja sudah sama persis yang diinginkan.

“Oleh karena itu Bojonegoro menjadi contoh karena dianggap sebagai subnasional level,” tegas Kang Yoto, sapaan akrab Bupati Bojonegoro.

Dia katakan, ada 11 Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung adanya transparansi anggaran yang sejalan dengan semangat semua pihak. Dalam transparansi pendapatan belanja dari DBH Migas sudah dialokasikan untuk kebutuhan masyarakat Bojonegoro.

“Berapa duit, untuk apa, itu kami sudah terbuka semua. Tinggal bagaimana format pelaporan transparansi yang saya kira senang sekali mendengar itu,” tandasnya. (rien)

sumber : http://suarabanyuurip.com/kabar/baca/penerimaan-dari-industri-ekstraktif-hanya-25-persen